This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Jumat, 30 Desember 2011
Rabu, 10 Juni 2009
Kalo dianalogikan, bahwa komunikasi dalam dunia Audio Visual setidaknya sama dengan pembuatan Makanan (kue, masakan dll).
Jika pada makanan akan sangat terasa perpaduan bahan-bahan yang digunakan untuk menciptakan suatu karya masakan hingga sampai dilidah.
Komposisi Martabak misalnya berapa elemen yang harus ada (telur, daun bawang, daging dll), menjadi “standar” komposisi, tapi setiap dari pembuat mempunyai hak untuk menambahkan atau mengurangi dari komposisi yang ada tersebut.
Jadi komposisi itu meliputi apa saja yang kita susun untuk menciptakan sesuatu.
Komposisi dalam Komunikasi Audio Visual :
Komposisi;
It’s the Idea/ways of arranging pictures to provide an attractive harmonious effect.
(cara/ide dalam penyusunan gambar untuk menghasilkan efek gambar yang menarik)
Komposisi akan mempengaruhi “TASTE”, yakni akan terdapat impresi yang berbeda dari bagaimana objek ditampilkan dalam frame
Komposisi secara visual akan terpengaruhi oleh type of shot, camera angle, camera movement, lighting dan pengaturan peletakan objek dalam frame.
Macam komposisi :
Proporsi (ukuran)
Framing
Pictorial Balance
Scale
Subject Prominence
Subject Attitude
Picture shape
Unifying interest
Speed of Compositional lines
Continuity of Centers of Interest
Color Impact
1. Proporsi (ukuran)
Ukuran menentukan obyek mana saja yang akan menjadi point interest. Ada ukuan baku tapi bukan hukum untuk objek.
Ukuran yang biasa kita kenal seperti:
Type of shot yang terdiri dari: ECU sampai ELS
Camera Angle
Camera Movement
Lighting
2. Framing :
Yakni bagaimana kita meletakkan obyek dalam frame dengan berbagai kondisi.
Lihat dibuku ada perbedaan antara obyek diam, jalan, berlari, naek motor dalam peletakkan objek dalam frame.
Kemudian dimana objek menghadap maka akan ada ruang didepan obyek tersebut.
3. Pictorial Balance :
Secara singkat maksudnya adalah bagaimana gambar yang dimunculkan mempunyai keseimbangan antara obyek yang satu dengan obyek2 yang lain. Sehingga enak ditonton.
Selasa, 02 Juni 2009
Kamis, 23 April 2009
Image via Wikipedia
Pengertian Media Komunikasi dan Audio-Visual
Media berarti wadah atau sarana. Dalam bidang komunikasi, istilah media yang sering kita sebut sebenarnya adalah penyebutan singkat dari media komunikasi. Media sangat berperan dalam mempengaruhi perubahan masyarakat. Televisi dan radio adalah contoh komunikasimedia yang paling sukses menjadi pendorong perubahan. Audio-visual juga dapat menjadi media komunikasi. Penyebutan audio-visual sebenarnya mengacu pada indra yang menjadi sasaran dari media tersebut. Media audio-visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan dari khalayak sasaran (penonton). Produk audio-visual dapat menjadi dokumentasi dan dapat juga menjadi mediamedia komunikasi. Sebagai media dokumentasi tujuan yang lebih utama adalah mendapatkan fakta dari suatu peristiwa. Sedangkan sebagai mediakomunikasi, sebuah produk audio-visual melibatkan lebih banyak elemen media dan lebih membutuhkan perencanaan agar dapat mengkomunikasikan sesuatu. Film cerita, iklan, media pembelajaran adalah contoh media audio-visual yang lebih menonjolkan fungsi komunikasi. Media dokumentasi sering menjadi salah satu elemen dari mediakomunikasi. Karena melibatkan banyak elemen media, maka produk audio-visual yang diperuntukkan sebagai media komunikasi kini sering disebut sebagai multimedia.
Pada masyarakat yang masih terbelakang (belum berbudaya baca-tulis) elemenelemen multimedia tidak seluruhnya secara optimal menunjang komunikasi. Masyarakat terbelakang hanya mengenal gambar dan suara. Pada masyarakat modern seluruh elemen multimedia menjadi sangat vital dalam membangun kesatuan dan memperkaya informasi. Suara, teks, gambar statis, animasi dan video harus diperhitungkan sedemikian rupa penampilannya, sehingga dapat menyajikan informasi yang sesuai dengan ciri khas masyarakat modern yakni efektif dan efisien. Untuk kepentingan efektifitas dan efisiensi inilah kemudian muncul istilah multimedia yang bersifat infotainment (informatif sekaligus menghibur) dan multilayer (beberapa lapis tampil pada saat yang sama). Saat menyaksikan tayangan TV masyarakat telah terbiasa melihat sinetron sambil mencermati tambahan berita dalam bentuk teks yang bergerak di bagian bawah layar TV, dan sesekali melirik logo perusahaan TV di pojok atas.
Senin, 13 April 2009
Semiotika Komunikasi Visual
Semiotika Komunikasi Visual
Berbicara fungsi dan kegunaan semiotika dalam Desain Komunikasi Visual, semiotika sebagai ilmu memiliki fungsi ganda untuk menciptakan sebuah karya (encoding) sekaligus dapat pula digunakan sebagai “alat” untuk menganalisis (decoding) dan pembongkaran makna di balik pesan dalam karya DKV.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu tentang tanda (the science of sign) semiotika memiliki prinsip, sistem dan prosedur kelimuan khusus dan baku, tetapi tidak dapat disesjajarkan dengan ilmu alam (natural science) yang menuntut ukuran pasti untuk menghasilkan pengetahuan objektif sebagai sebuah kebenaran tunggal tetapi semiotika dibangun oleh pengetahuan yang lebih terbuka bagi beragam interpretasi.
Semiotika mengajarkan makna jamak (polysemy) yang memiliki karakter dinamis, lentur dan terbuka bagi pembacaan dan interpretasi yang diukur dari derajat kelogisannya berdasar pada interpretasi lebih masuk akal.
Melihat karya DKV dengan kaca mata semiotika dia (baca: karya DKV) memiliki sistem semiotika yang khusus dengan perbendaharaan tanda (vocabulary) dan sintaks (sintagm) yang khas. Di dalam sistem semiotika komunikasi visual melekat fungsi komunikasi, yaitu fungsi tanda dalam menyampaikan pesan (message) dari pengirim (sender) kepada penerima (receiver) tanda berdasar aturan (kode-kode) tertentu. Meskipun fungsi utama adalah fungsi komunikasi tetapi bentuk-bentuk komunikasi visual juga mempunyai signifikasi (signification), dimana penanda (signifier) yang bersifat kongkrit dimuati konsep-konsep abstrak (makna) atau yang umum disebut sebgai petanda (signified).
Komunikasi visual menurut AD. Pirous pada hakekatnya adalah bahasa. Tugas utamanaya adalah membawakan pesan dari seseorang, lembaga atau kelompok masyarakat tertentu kepada orang lain. Dalam karya DKV terdapat dua pesan sekaligus yaitu pesan verbal dan pesan visual yang keduanya dianggap sebagai sebuah teks dan konteks fenomena kebahasaan. Pengungkapan pesan verbal dan visual pada dasarnya adalah untuk dilihat (dibaca) sebagai teks yang menggunakan berbagai istilah yang terdapat dalam bahasa yang selalu terkait dengan konteks tertentu. Di sinilah peran teks dan konteks menciptakan makna. Ketika teks verbal dan konteks visual dihasilkan dari pengetahuan bersifat rasional, dan pragmatis yang senantiasa dipengaruhi oleh gerak dan perubahan di dalam sistem sosial dan ekonomi yang melingkupi, maka mau tidak mau sebuah pesan dalam karya Desain Komunikasi Visual akan selalu mengikuti pola dasar ideologi yang ada di balik pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak sebagai sebuah konsumsi massa bisa bersifat konstrukstif atau sebaliknya bisa juga bersifat destruktif.
Evolusi kenetralan proses komunikasi dalam karya DKV menjadi sebuah agenda setting terslubung dari media massa merupakan bentuk abstrak yang harus “dibaca” oleh setiap orang dengan kaca mata yang tepat (baca:semiotika). Karena Pada dasarnya ketika kita melihat berbagai bentuk pesan verbal dan visual sesungguhnya kita telah membaca hal-hal yang kita lihat bahkan yang kita dengar sehingga arti di balik tanda hingga makna ideologinya.
Maka pembongkaran teks (karya DKV) sebagai bacaan sehari-hari masyarakat modern dengan tanda dan pesan yang terkadang bersifat manipulatif terhadap “konsumen” harus dilakukan. Tentu saja hal ini dapat dilihat hubungan struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh acuannya. Dan hasilnya bagaimana tanda tersebut berfungsi membawa muatan ideologi pada saat rekontruksi tanda terjaadi pada sebuah karya DKV.
“Membaca” berbagai teks budaya, termasuk karya DKV yang disebarluaskan di berbagai media sebagai sarana promosi dan penjualan produk dan jasa adalah kewajaran yang harus dan biasa dilakukan oleh siapa saja, sehigga dari sini seseorang akan dapat memilih dan memilah terhadap pesan-pesan persuasif yang positif di alam komunikasi masyarakat modern saat ini.
Daftar Pustaka
Amir Piliang, Yasraf, ,Hiper Semiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003
Amir Piliang, Yasraf, Dunia Yang Dilipat tamasya melampaui batas-batas kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004.
Barthes, Roland, S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang 1974
Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku Baik dan Yayasan Seni Cemeti, 2004.
Fiske, John, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.
Sobur, Alex , Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, Dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosda Karya Offset, Bandung,
2006.
Tinarbuko, Sumbo, Semiotika Komunikasi Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.
Membaca “Teks” Desain Komunikasi Visual #1
5 Februari 2009 in artikel Dekave | No comments
Oleh Kismiaji, S.Sn.
Surabaya, 28 Januari 2009
Tugas seorang cendekiawan justru adalah menjadikan semiotika sebagai suatu metode untuk menegakkan yang hak dan mendekonntruksi yang bathil
(Yasraf Amir Piliang, Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004, hlm. 327.)
Semiotika Komunikasi Visual
Berbicara fungsi dan kegunaan semiotika dalam Desain Komunikasi Visual, semiotika sebagai ilmu memiliki fungsi ganda untuk menciptakan sebuah karya (encoding) sekaligus dapat pula digunakan sebagai “alat” untuk menganalisis (decoding) dan pembongkaran makna di balik pesan dalam karya DKV.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu tentang tanda (the science of sign) semiotika memiliki prinsip, sistem dan prosedur kelimuan khusus dan baku, tetapi tidak dapat disesjajarkan dengan ilmu alam (natural science) yang menuntut ukuran pasti untuk menghasilkan pengetahuan objektif sebagai sebuah kebenaran tunggal tetapi semiotika dibangun oleh pengetahuan yang lebih terbuka bagi beragam interpretasi.
Semiotika mengajarkan makna jamak (polysemy) yang memiliki karakter dinamis, lentur dan terbuka bagi pembacaan dan interpretasi yang diukur dari derajat kelogisannya berdasar pada interpretasi lebih masuk akal.
Melihat karya DKV dengan kaca mata semiotika dia (baca: karya DKV) memiliki sistem semiotika yang khusus dengan perbendaharaan tanda (vocabulary) dan sintaks (sintagm) yang khas. Di dalam sistem semiotika komunikasi visual melekat fungsi komunikasi, yaitu fungsi tanda dalam menyampaikan pesan (message) dari pengirim (sender) kepada penerima (receiver) tanda berdasar aturan (kode-kode) tertentu. Meskipun fungsi utama adalah fungsi komunikasi tetapi bentuk-bentuk komunikasi visual juga mempunyai signifikasi (signification), dimana penanda (signifier) yang bersifat kongkrit dimuati konsep-konsep abstrak (makna) atau yang umum disebut sebgai petanda (signified).
Komunikasi visual menurut AD. Pirous pada hakekatnya adalah bahasa. Tugas utamanaya adalah membawakan pesan dari seseorang, lembaga atau kelompok masyarakat tertentu kepada orang lain. Dalam karya DKV terdapat dua pesan sekaligus yaitu pesan verbal dan pesan visual yang keduanya dianggap sebagai sebuah teks dan konteks fenomena kebahasaan. Pengungkapan pesan verbal dan visual pada dasarnya adalah untuk dilihat (dibaca) sebagai teks yang menggunakan berbagai istilah yang terdapat dalam bahasa yang selalu terkait dengan konteks tertentu. Di sinilah peran teks dan konteks menciptakan makna. Ketika teks verbal dan konteks visual dihasilkan dari pengetahuan bersifat rasional, dan pragmatis yang senantiasa dipengaruhi oleh gerak dan perubahan di dalam sistem sosial dan ekonomi yang melingkupi, maka mau tidak mau sebuah pesan dalam karya Desain Komunikasi Visual akan selalu mengikuti pola dasar ideologi yang ada di balik pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak sebagai sebuah konsumsi massa bisa bersifat konstrukstif atau sebaliknya bisa juga bersifat destruktif.
Evolusi kenetralan proses komunikasi dalam karya DKV menjadi sebuah agenda setting terslubung dari media massa merupakan bentuk abstrak yang harus “dibaca” oleh setiap orang dengan kaca mata yang tepat (baca:semiotika). Karena Pada dasarnya ketika kita melihat berbagai bentuk pesan verbal dan visual sesungguhnya kita telah membaca hal-hal yang kita lihat bahkan yang kita dengar sehingga arti di balik tanda hingga makna ideologinya.
Maka pembongkaran teks (karya DKV) sebagai bacaan sehari-hari masyarakat modern dengan tanda dan pesan yang terkadang bersifat manipulatif terhadap “konsumen” harus dilakukan. Tentu saja hal ini dapat dilihat hubungan struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh acuannya. Dan hasilnya bagaimana tanda tersebut berfungsi membawa muatan ideologi pada saat rekontruksi tanda terjaadi pada sebuah karya DKV.
“Membaca” berbagai teks budaya, termasuk karya DKV yang disebarluaskan di berbagai media sebagai sarana promosi dan penjualan produk dan jasa adalah kewajaran yang harus dan biasa dilakukan oleh siapa saja, sehigga dari sini seseorang akan dapat memilih dan memilah terhadap pesan-pesan persuasif yang positif di alam komunikasi masyarakat modern saat ini.
Daftar Pustaka
Amir Piliang, Yasraf, ,Hiper Semiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003
Amir Piliang, Yasraf, Dunia Yang Dilipat tamasya melampaui batas-batas kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004.
Barthes, Roland, S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang 1974
Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku Baik dan Yayasan Seni Cemeti, 2004.
Fiske, John, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.
Sobur, Alex , Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosda Karya Offset, Bandung, 2006.
Tinarbuko, Sumbo, Semiotika Komunikasi Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.
Selasa, 17 Maret 2009
Mengenai Saya
- komunikasi AV
- Saya tuh ganteng,baek hati,suka memberi,pokoknya yang baek2 dech....







